Monday, October 1, 2007
Tetesan Gerimis
Aku hanya bisa mengajakmu berbicara dari hati
Dari hati yang dipenuhi ceceran debu gurun Sahara
Hati yang ditemani teriakan burung elang gurun yang ganas
Seganas harimau di Benua Hitam
Seganas hutan rimba
Seterjal gunung dan keganasan lembah Amazon
Meski aku mencoba menikmatinya
Layaknya menikmati perjalanan di rimba raya
Dan gunung pencakar awan, pencinta bumi
Dan stabilisator keindahan alam
Aku hanya ingin membawamu mengikuti percikan gerimis hujan
Membawamya satu demi satu, sedikit demi sedikit, tetes demi tetes
Menangkap, mengumpulkannya,
dan membasuhkannya ke dalam hati
Hati yang dipenuhi debu Sahara
Yang tersorot sinar surya di atas kepala
Namun, tetes demi tetes gerimis itu makin jarang kudapati
Hingga akhirnya menghilang di batas kampung
Aku terus berlari mencari setetes gerimis yang terbawa angin
Namun, aku tak bisa mengumpulkan lebih banyak lagi tetesan gerimis
Tetesan demi tetesan itu pun tak cukup digunakan
Sebab, terlalu banyak lagi yang mesti kukumpulkan
Engkau begitu lelah melihat prosesi ini
Bahkan tak akan sanggup menunggu perjalananku
Ya, aku hanya akan membawamu tertatih tatih
Akan sulit bagimu, juga bagiku
Aku pun tak sanggup melihatmu tergopoh-gopoh kesakitan
Tersendat sendat rimbunnya pohon dan semak belukar yang kau lalui
Aku tak ingin melihat matamu meneteskan air
Jatinangor, Di Penghujung September
Friday, September 28, 2007
Perempuanku di Ujung Sana
Entah mengapa aku tak berdaya.... (iwan F.)
sedikit ngutip dari bang iwan
Hari berganti, purnama berganti
Bahkan gerhana pun kulalui
Dengan penuh suka dan sedih
Ya, itulah perjalanan manusia
yang tak mungkin berada dalam satu posisi
Bahkan tak bertahan lama dalam zona kenyamanan
Entah ini sebuah "buah" atau sekadar "daun"
Tapi semua itu mengisyaratkan kedamaian dan asa
Asa yang sudah lama tertidur
Bahkan mungkin telah terbius oleh aromanya
Aku pun tak bisa lagi menghisap aroma,
Wewangian dan aksesoris yang melekatinya
Penuh dengan asa
Di ujung sana dia hanya diam
Terdiam namun dia selalu tersenyum kadang tersipu malu
Di bawah busananya ia tertunduk sendu
Ada kesal dan mungkin duka di rautnya
Aku pun hanya bisa menatapnya dari kejauhan
Berharap suatu hari kumampu menatap lebih dalam
Penuh emosi, penuh kasih dan penuhi realitas sejatinya
Realitas dan waktu pun terus mengingatkanku
Jatinangor, Triple A, 7 September 2007
Mencintaimu
Mencintaimu dengan sederhana dan kesederhanaan
Mencintai dengan apa adanya
Mencintai dengan tulus
Mencintai dengan penuh penghayatan
Mencintai dengan hati
Aku ingin belajar mencintaimu
Mencintai dengan segala ketulusan dan kerendahan hati
Elegi Di Sore Hari
Di Atas pohon ini, sepuluh tahun yang lalu
Aku biasa memandang kejauhan
Menatap hamparan sawah dan ladang
Menatap Jauh ke sana
Menatap para petani yang sedang memanen
Yang sedang menebar benih dan palawija
Termasuk saudara-saudaraku
Aku pun baru saja berhenti untuk melepas dahaga
Angin terasa teramat sepoi
Menerpa rambutku yang mulai memanjang
sambil berayun di atas dahan pohon
Nampak seperti spesies yang agak mirip manusia :-(
Aku tersenyuim mengingat masa kecil
Bermain, dan bercengkrama dengan burung,
Berburu capung dan simeut
Indah nian alam yang ada di depanku ini
Aku pun amat teramat bahagia
Aku bisa merenget nangis atau sekadar teriak-teriak
Bersama teman sepermainan
Atau Sekadar minta ditangkapin burung atau simeut
Kepada kakakku atau ibuku
Tak bisa kubayangkan bahagainya waktu itu
Sekarang, masih tetap di atas dan sesekali di bawah pohon yang rindang
Pohon Mangga yang nampak makin tua dan makin rindang
Pohon terbesar di kebunku
AKu hanya bisa tersedu menatap pesawahan
yang Kian hari-kian mengering
Tanah-tanah mulai pecah-pecah nampak seperti orang yang sariawan
Kering dan bibir-bibir tanah ini pecah
Entah bisa apa tidak disembuhkan
Entah obat sariawan bisa menyembuhkan pesawahan ini
Menymbuhkan kekeringan yang terus melanda setiap daerah
Menyemnuhkan mereka-meraka yang seang mencari sesuap nasi
Untuk anak-anak dan istri mereka
AKu hanya bisa terdiam menatap mereka yang coba bangkit
Mentyiram palawija dan tanaman musiman
Untuk tetap bertahan hidup
Lari dari kemiskinan pedesaan
Mereka bangkit untuk tidak terbelenggu kekeringan
Untuk anak mereka yang sedang sekolah
Untuk bayaran SPP, Bangunan, dan Uang Jajan
Tak peduli siang dan malam
Tak peduli Hujan atau Kemarau
Merek terus menyiram
Menyiram keringnya tanah
Menyiram keganasan dunia
Berat nian beban hidupmu, saudaraku
Susah betul kau nyari sesuap nasi
Sekali lagi aku hanya bisa diam, tersedu
meneteskan air mata
yang tak mungkin bisa menyiram keringnya sawah dan ladang
Apalagi membuat subur tanah ini
Tak hanya tanah-tanah yang biasa dulu kami tanami padi dan palawija
semua tanah dan daratan yang ada di depnku menjadi kering kerontang
bahkan pecah-pecah bagai bibir yang terkena panas dalam dan sariawan
Semua orang merasa lesu
Kami berharap, buah-buahan bisa menyelamatkan kami
dari kekeringan
sebagai obat dahaga dan sariawannya tanah ini.
AKu ingin sekali menjadi obat bagi tanah dan mereka-mereka yang kekeringan
Menyembuhkan bibir-bibir tanah yang pecah-pecah
Mengobati panas dalam yang mereka alami
Dan membuat ceria para petani dan anak-anaknya
Menyekolahkan mereka
Membuat mereka cerdas, pinter dan mandiri
Membuat mereka sadar akan beban yang orang tua merek pikul
Membuat mereka makmur, sejahtera dan damai
Menempuh hidup, menanti masa tua
bersama isteri dan anak-anak mereka juga cucunya
Kuningan, Agustus 2007
Di bawah pohon mangga, di sekitar Sawah Lega
Monday, June 18, 2007
Kutitipkan Salam Untukmu
lewat burung kenari
yang bernyanyi di pagi hari
yang hinggap di samping rumah
saat aku menyiram anggrek merah
yang sedang merekah di musim panas....
Salam kerinduan akan susana syahdu, sejuk nan riang
mengenang kesejukan dan kesyahduan wajahmu
meski dalam duka lara...
Aku selalu terpesona akan senyum
senyum seorang yang penuh keceriaan
penuh kedamaian
kedamaian yang terpancar di wajahnya
wajah yang akan selalu kukenang
dan kudamba....
yang selalu tersenyum saat kupandang
That was impossible!
kalimat itu terdengar nyaring
di telinga bagian Sangguardi
sebelah dalam gendang telinga
aku pun terperanjat
mengusap kedua mataku...
oh sayang sekali ternyata cuma mimpi.....
Manusia Perfectionis, that was Right!
Kalimat itu tidak lantas membuat "keakuanku" tersinggung atau bahkan marah. Malah itu membuatku makin membuka mata, hati dan pikiran agar terus memperbaiki diri. Memperbaiki semua sifat dan sikap yang buruk. Karena itu tekadku 8 tahun yang lalu sejak seorang sahabat sering "ngomel" dan menasehati akan sifat dan sikapku selama bertahun-tahun. Namun entah hasilnya, nampak belom ada peningkatan. Memang mesti selalu ada yang mengingatkan. Entah siapapun dan apapun.
Ya, manusia perfectionis. Mudah-mudahan "keakuanku" makin menjadi abu dan sirna diterpa hujan yang deras dan dingin sedingin es di Antartika dan selembut salju yang turun di Afrika yang tandus mengalir mengisi kekeringan di Ethiopia. Mengisi tenggorokan yang dahaga akan embun pagi di Gunung Merbabu yang membawa kedamaian hati para pendaki. Pendaki puncak dan pecinta kebaikan demi leburnya "keakuan" yang mudah-mudahan perlahan terus mencair, menetes, ,mengaliri kegersangan pasir pegunungan. I hope so...
Thanks Homunculus, dikau udah mengingatkanku....atau siapapun yang sudi mengingatkan
Monday, June 4, 2007
Kehampaan Spiritual
Aku pun akhirnya terlelap dalam desahan nafas tarian dan belaian tangan para penari kehampaan yang terus membelai, meraba, memeluk dan mencium dengan wewangiannya yang khas yang semerbak terbawa angin pilu dari nirwana keabadian. Angin itu terus mendayu-dayu membawa wewangian yang terus-menerus menyebar ke penjuru dunia dan diantar oleh para bidadari nirwana keabadiam. Angin yang menyebarkan kehampaan dunia, bersama keangkuhan, dan kemiskinan hatiku.
Aku hanya bisa menghela dan menarik nafas panjang sekuat tenaga untuk tetap bisa menghirup wangi kehampaan yang perlahan menghilang dari depan hidungku. Aku pun menangis dengan sedu sedan seiring menghilangnya wewangian yang aku puja-puja itu. Tanpa kusadari, aku telah menangis begitu lama begitu parau bagai elegi sang penyair dari negeri 1001 puisi. Menangis tanpa henti melebihi tangisannya Si Majnun yang menangis di pusara Laila. Menangisi semua kehampaan dan kegelisahan yang datang silih berganti.
Arogansi Manusia
Mestikah ia arogan, padahal ia hanya sebatang kara yang dilahirkan tanpa sehelai busana, tanpa materi dan tanpa apa-apa. Bahkan ia matipun hanya sendirian tanpa pakaian layak bahkan jauh dari keindahan. Bagaimana ia bisa lakukan itu?
Ya Allah, apakah aku ini bagian dari manusia seperti di atas?Jika aku memang demikian, aku mohon petunjuk-Mu agar aku mampu meluluhkan hati ini, agar aku mampu meredam nafsu angkara murka, beri aku petunjuk untuk membebaskan pikiranku dari arogansi dan perilaku yang sombong. Ya Allah, beri aku kekampuan dan komitmen yang kontinu untuk melepaskan sifat jahat dan arogansi apapun dalam perjalanan hidupku. Ya Allah, jika aku tak mampu melakukannya, aku mohon beri kesempatan kepadaku untuk mmemohon ampunan-Mu. Amin...
Wednesday, May 9, 2007
Kemauan untuk Berubah
memang berteman itu sangat penting dan menjaga persahabatan itu amat sangat penting dan wajik kita pertahankan apaun resikonya. karena teman itu lebih dari sekadar saudara. itu mungkibn menurutku sangat penting kenapa kadang kita mesti berkorban demi teman meski itu terasa berat dan menyakitkan. sy ga ingin menyakiti siapapun apalagi teman.
Namun, pas tengah malam pulang ke kosan. suasana ceria itu menjadi sedikit berkurang apalgi udah liat skripsi dan buku yang bergeletak di atas meja yang udah sebulan ga disentuh. sial, lagi2 sy telat lulus...
sialnya lagi teman kosan sebelah malah ngajak ngpbrol dan curhat sana sini yang padahal saya udah membuang jauh jauh curhatan itu dan ga pernah mempermasalahkan lagi dan menerima apapun itu baik atau uruk bagiku. dan akan menjadi pelajaran yang berharga bagiku. terserah apa maumu dan kenginanmu. yang penting lo dan sekeluarga bahagia :) -kasarnya begitu
maaf bukannya sy ga peduli ama temen "di sini" tapi kalo sy teramat peduli dg keadaan "di sini" maka masalah itu menjadi amat ruwet dan bikin gw ga produktif. ahirnya sy pun membiarkan dia bercerita banyak tentang berbagai masalah kami. tapi bagiku itu spent my time bahkan bagiku itu ga pemnting lagi., lagi lagi sy mesti memahami dan menghargai otang. itu memang udah fitrah kali, qt mesti begitu.
apapun keputusanmu, itu adalah opsi yg kau pilih dan kau mesti tau risiko yang bakal ditanggung. mati kya berubah demi kenbaikan qt bersama. sekali lagi ga
ya , moga nt sukses...
wish you luck.....
Tuesday, March 27, 2007
Knowledge is Free
Nun jauh di sana mereka butuh buku, butuh ilmu, butuh pengetahuan. Mereka haus, mereka lapar, mereka menderita. Secara fisik, mereka sangat "menderita" karena kekurangan makan, gizi, air bersih, kesehatan dll. Gimana orang mau pinter kalo mengonsumsi makan yang ga bergizi dan kekurangan unsur-unsur vital makanan. Gimana mereka mau cerdas kalo mereka selalu dibodohi dan ditindas. Secara psikis, mereka ingin maju, ingin sekolah, ingin kuliah dan ingin browse di internet dan fs. mereka ingin bisa berkomunikasi dengan orang lain di sana di kota-kota maju dan negara-negara maju, mereka ingin belajar dan menimba ilmu dan saling berbagi dengan sesama. Mereka ingin menggapai cita-citanya. Mereka ingin bercerita tentang hidup dan banyak hal. Mereka ingin belajar seprti kita, di sini, di kampus, di internet via google, via email, via situs-situs pengetahuan yang menyediakan sumber dan ensiklopedi ilmu pengetahuan. Mereka ingin maju bersama orang lain, mereka ingin seperti Einstein, atau Stephen King atau Danah Johar. Mereka ingin sekali sekolah dan melanjutkan pendidikian tinggi.
namun, mereka tak kuasa dan tak mampu menggapai itu. Karena itu sangat sulit digapai. mereka tidak punya sarana buku, perpustakaan murah, komputer, koneksi Internet, pakaian layak dan makanan yang yang bergizi. Akhirnya mereka semakin miskin dan bodoh dan sangat mudah dibodohi. Ya Allah, Kutuklah aku supaya aku bisa membantu mereka dan mencerdaskannya, supaya aku terbebas dari dosa-dosa sosial.
Berbeda bagi orang kaya yang tinggal ngomong ke mami supaya bis sekolah, beli buku, akses internet, yang mungkin bisa minta ini dan itu kepada orang tua. mereka punya fasilitas. Jangan membayangkan orang miskin. Bayangkanlah mereka yang kaya dan pinter serta berbagai kemudahan. Itu kalau kita ingin dikutuk peradaban dan umat manusia. Tapi berbuatlah sesuatu untuk orang lain yang betul-betul memerlukan.
Sekolahan sangat mahal, buku sangat mahal. maka jalan keluarnya adalah mencari sumber buku bacaan lewat Internet (mesti dibedakan antara internet dan Internet Bro...). Pengetahuan yang ada saat ini sulit didapat secara hard copy. Maka bagi kita yang punya knowledege sangat disarankan bahkan diwajibkan untuk saling berbagi ilmu. Pengetahuan yang kita miliki semesetinya bisa bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan. Knowledge yang dikembalikan dan dimanfaatkan oleh lingkungan. knowledge haruslah gratis. Knowledge dan teknologi mestilah tidak merusak lingkungan. Knowledge haruslah bisa membumi dan dibumikan untuk kemajuan dan kesejahteraan umat manusia. Knowledge is free.